Puluhan warga binaan itu terlihat rapi dan antusias untuk mengikuti arahan sipir penjara untuk mengikuti pendidikan kesetaraan atau kejar paket. Mereka duduk ... [836] url asal
Kendari (ANTARA) - Puluhan warga binaan itu terlihat rapi dan antusias untuk mengikuti arahan sipir penjara untuk mengikuti pendidikan kesetaraan atau kejar paket. Mereka duduk berjajar dan menyimak dengan baik arahan tutor dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Kendari.
Hal yang menarik dari kelas tersebut, terdapat beberapa para warga binaan yang tangannya hampir dipenuhi tato, memegang bolpoin dan dengan lancar menulis apa yang disampaikan oleh pengajar mereka.
Tidak sedikit di antara mereka yang mengenakan seragam berwarna merah dengan tulisan "Warga Binaan Pemasyarakatan" itu juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada pengajar terkait dengan materi yang disampaikan kepada mereka.
Pendidikan kesetaraan itu merupakan wujud program inovasi dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari untuk memenuhi kebutuhan pendidikan para warga binaan tersebut.
Dalam upaya memenuhi hak pendidikan bagi setiap warga negara, termasuk para warga binaan, itu sudah diatur dalam Pasal 31 ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945).
Untuk memberikan hak pendidikan kepada para warga binaan itu, SKB dan Lapas Kendari menjadwalkan dalam satu pekan untuk mengajar mereka yang tertinggal dalam hal pembelajaran, yakni pada Senin dan Kamis. Upaya itu untuk tetap memberikan mereka kesempatan menimba ilmu, walau dari balik jeruji.
Kepala Satuan SKB Kota Kendari Sarjan, saat ditemui ANTARA di Lapas Kelas IIA Kendari menjelaskan bahwa pembelajaran itu sudah mulai sejak Oktober 2024, setelah ditandatangani naskah kerja sama. Para narapidana itu mengikuti pendidikan kesetaraan atau Paket B (sederajat SMP) dan Peket C (sederajat SMA).
Meskipun pesertanya adalah narapidana, materi pembelajaran sama dengan yang diterapkan dalam lingkup SKB, yakni menggunakan kurikulum yang diacu dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Mata pelajaran yang diberikan kepada mereka juga sama dengan sekolah-sekolah pada umumnya, sedangkan yang berbeda hanya karakteristiknya saja. Dengan demikian, para pengajar harus menggunakan pendekatan persuasif. Persuasif dilakukan untuk memberikan rasa nyaman bagi peserta yang secara kondisi psikisnya berbeda dengan murid yang berada di luar lapas.
Para warga binaan yang mendapatkan pembelajaran pendidikan kesetaraan di Lapas Kendari, Sulawesi Tenggara (2/5/2025). (ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra)
Dalam memberikan pelajaran kepada mereka, para tutor dari SKB juga mengedepankan cara agar para warga binaan bisa mendapatkan perubahan yang baik dan terus bersemangat dalam mengikuti semua proses pembelajaran.
Dengan menggunakan pendekatan yang persuasif, maka warga binaan yang tadinya sudah tidak ada semangat untuk ikut belajar, semangatnya tumbuh bahwa pendidikan itu sangat penting bagi mereka.
Ketika mereka bersemangat untuk terus belajar, diharapkan kegiatan pembelajaran yang merupakan layanan khusus di Lapas Kendari bisa mereka jadikan sebagai sarana untuk menambah pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.
Di momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 ini, SKB sebagai penyelenggara pendidikan yang juga menjadi mitra Lapas Kendari dapat melayani hak-hak warga binaan untuk memperoleh ilmu pengetahuan melalui pendidikan dengan mendapatkan ijazah layaknya pendidikan formal.
Data di Lapas Kendari menunjukkan masih banyak warga binaan di lapas itu yang sangat tertinggal dalam pendidikan formal. Kondisi tersebut yang menggerakkan lapas untuk membuka kelas-kelas khusus untuk memberikan bimbingan kepada mereka yang kemampuannya tertinggal, dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lain.
Kelas-kelas itu dibuat agar mereka yang tertinggal dalam pendidikan bisa kembali merasakan suasana belajar, seperti yang pernah mereka rasakan pada saat bersekolah.
Pendidikan kesetaraan itu juga melengkapi berbagai kemampuan dan keterampilan yang mereka peroleh lewat pelatihan-pelatihan di lapas. Semua pengetahuan dan keterampilan itu dapat menjadi bekal bagi mereka, sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih baik untuk kembali ke masyarakat atau saat mereka keluar dari lapas, nantinya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Kendari Herman Mulawarman menyampaikan bahwa semangat warga binaan untuk ikut dalam pendidikan itu sangat tinggi dan menyambut baik para tenaga pengajar atau tutor yang datang dua kali dalam sepekan ke lapas.
Penyelenggaraan pendidikan kesetaraan itu sangat bermakna, terutama bagi mereka yang masih buta huruf. Adanya beberapa warga binaan yang buta huruf, kemudian menjadi perhatian pengelola Lapas Kendari untuk memberikan program pendidikan kepada mereka, yang diharapkan mereka nantinya memiliki keterampilan membaca dan menulis, termasuk menghitung.
Selain buta huruf, ada juga beberapa warga binaan yang sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Dengan pendidikan kesetaraan itu, mereka kemudian menjadi terlatih untuk menggunakan Bahasa Indonesia, baik tulis maupun lisan.
Dalam satu kelas pendidikan kesetaraan paket B yang diadakan itu berjumlah 25 orang, sedangkan untuk kelas Paket C terdapat sebanyak 40 orang warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Kendari Herman Mulawarman (kiri) bersama Kepala Satuan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Kendari Sarjan saat diwawancarai di Kendari, Sulawesi Tenggara (2/5/2025). (ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra)
Selain pendidikan kesetaraan, Lapas Kendari juga memberikan kesempatan kepada warga binaan yang tengah menempuh pendidikan jenjang Strata-1 atau S1 di perguruan tinggi untuk melanjutkan pendidikannya hingga mereka mampu menyelesaikan ujian skripsi.
Beberapa bulan lalu, dosen dari satu perguruan tinggi melaksanakan ujian skripsi di lapas untuk warga binaan yang tengah menempuh pendidikan tinggi dan sudah pada tahap menyelesaikan skripsi.
Apa yang dilakukan oleh pengelola Lapas Kendari bersama SKB Kota Kendari merupakan wujud hadirnya negara dalam memberikan layanan kesempatan pendidikan kepada seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan status.
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar pertandingan futsal bagi para narapidana atau warga binaan ... [343] url asal
membangun komunikasi, silahturahim, dan soliditas dengan warga binaan
Kendari (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar pertandingan futsal bagi para narapidana atau warga binaan dalam rangka memeriahkan Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-61.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan atau KPLP Lapas Kelas IIA Kendari Andi Fahriadi saat ditemui di Kendari, Senin, mengatakan bahwa pertandingan futsal tersebut dilaksanakan hingga 28 April 2025 mendatang dengan total sebanyak 11 tim gabungan narapidana.
"Pertandingan olahraga pada hari ini dilaksanakan dalam rangka Hari Ulang Tahun Pemasyarakatan yang ke 61, terdiri dari beberapa pertandingan yang sifatnya intern, yang mana ada juga antarpegawai se-Kota Kendari yang dilakukan di Lapas Kelas IIA Kendari," kata Andi Fahriadi.
Dia menyebutkan adapun jenis pertandingan yang diadakan tersebut, antara lain bola voli, sepak takraw, futsal, tenis meja, dan bulutangkis.
Andi Fahriadi menjelaskan untuk pertandingan futsal antarnarapidana tersebut diikuti oleh sebanyak 11 klub, yang terdiri dari warga binaan atau narapidana campur dengan pegawai Lapas Kendari.
"Kalau peserta terdiri dari 11 klub, terdiri dari warga binaan bercampur dengan petugas. Kita campur, biar tidak ada gep, dalam satu tim itu kita sisipkan petugas Lapas sebanyak tiga orang maksimal dari 10 orang per tim," ujarnya.
Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan atau KPLP Lapas Kelas IIA Kendari Andi Fahriadi (kanan) saat diwawancara awak media. ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra
Andi Fahriadi mengungkapkan kegiatan tersebut selain bertujuan untuk memperingati hari bhakti pemasyarakatan, juga membangun komunikasi dan silahturahmi antara para warga binaan dan petugas Lapas.
"Ini bagian dari mitigasi dari hal-hal yang berkenan dengan pelanggaran pidana, itu tidak terjadi," ungkap Andi Fahriadi.
Dia juga menyampaikan jika pertandingan yang diadakan itu merupakan salah satu bentuk pembinaan bagi para warga binaan.
Adapun untuk hadiah yang disiapkan bagi para pemenang, Lapas Kelas IIA Kendari telah menyiapkan kategori juara 1 hingga juara 3 dengan pemberian uang pembinaan bagi para pemenang.
"Tapi ini esensinya bukan di hadiahnya, tapi membangun komunikasi, silahturahim, dan soliditas dengan warga binaan," tambahnya.
Lapas Kelas IIA Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menggagalkan upaya penyelundupan sabu lewat sabun mandi yang dibawa pembesuk berinisial NZ. [384] url asal
Lapas Kelas IIA Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menggagalkan upaya penyelundupan sabu lewat sabun mandi yang dibawa pembesuk berinisial NZ. Namun pelaku masih diburu setelah melarikan diri.
"Iya betul modus penyelundupannya melalui sabun batang pepaya," kata Kepala Lapas Kendari Kendari Herman Mulawarman kepada detikcom, Sabtu (22/2/2025).
Insiden itu terjadi di ruang pemeriksaan Lapas Kelas IIA Kendari, Sabtu (22/2) sekitar pukul 11.14 Wita. Kedatangan pelaku terekam jelas di kamera pengawas.
"Awal datang pembesuk diarahkan ke petugas pemeriksaan barang-barang," ujarnya.
Saat petugas melakukan pemeriksaan, gelagat pelaku tampak mencurigakan. Sebelum selesai melakukan pemeriksaan, pelaku beralasan hendak ke kamar mandi.
"Saat diperiksa itu, dia beralasan sakit perut dan mau ke kamar mandi," ujarnya.
Namun ternyata, pelaku langsung melarikan diri dari Lapas Kendari sebelum selesai pemeriksaan. Petugas kemudian melanjutkan pemeriksaan barang-barang terutama sabun batang pepaya.
"Dia langsung kabur, terekam CCTV. Setelah itu sabunnya kita potong-potong dan menemukan tiga pipet berisi sabu-sabu seberat 1,23 gram," imbuhnya.
Herman mengungkapkan setelah menemukan sabu-sabu itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Polresta Kendari. Sedangkan identitas pelaku sudah dikantongi.
"Identitasnya jelas nama dan alamat, sudah kita koordinasi dengan Polresta Kendari dan dalam pengejaran," tuturnya.
Pihaknya berkomitmen dalam upaya pemberantasan peredaran narkotika di Lapas Kelas IIA Kendari sesuai 13 program akselerasi Kementerian Imipas.
"Ini sesuai 13 program Menteri Imipas Agus Andrianto dalam memberantas peredaran narkotika dengan berbagai modus di lapas dan rutan," pungkasnya.
Sebanyak 179 narapidana (napi) perempuan menyalurkan hak pilihnya di tempat pemungutan suara (TPS) khusus di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III ... [292] url asal
Meskipun berada di dalam lapas, warga binaan yang berdomisili sesuai dengan KTP-nya mendapatkan hak untuk memilih di TPS khusus.
Kendari (ANTARA) - Sebanyak 179 narapidana (napi) perempuan menyalurkan hak pilihnya di tempat pemungutan suara (TPS) khusus di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Perempuan Kendari, Sulawesi Tenggara.
Kepala Lapas Kelas III Kendari Rina Setiari saat ditemui di Kendari, Rabu, mengatakan bahwa ratusan napi perempuan yang ada di lapas tersebut terlihat antusias untuk menyalurkan hak suara mereka.
"Meskipun berada di dalam lapas, warga binaan yang berdomisili sesuai dengan KTP-nya mendapatkan hak untuk memilih di TPS khusus ini," katanya.
Sebelum hari-H pemungutan suara, kata Rina, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kendari telah melakukan sosialisasi tentang cara memilih serta membagikan buku yang berisikan visi misi pasangan calon pada Pemilihan Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Kendari.
"Dari situ tentu saja memberikan informasi ter-update mengenai calon-calon yang akan dipilih oleh mereka, jadi secara tidak langsung mereka harus mengenal seperti apa sih visi dan misi calonnya," ujarnya.
Kalapas berharap seluruh warga binaan dapat memilih pasangan calon pada Pilkada Kota Kendari dan peserta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara yang betul-betul bisa memberikan yang terbaik bagi daerah dan masyarakat.
"Mudah-mudahan semua bisa memilih dan bisa memberikan hak suaranya di lapas ini," kata Rina.
Sementara itu, Ketua KPPS TPS 901 Ni Putu Desi A. mengatakan bahwa di Lapas Perempuan Kendari hanya terdapat satu TPS yang melayani seluruh narapidana dan anggota KPPS.
"Seluruh rangkaian kegiatannya berjalan dengan aman dan lancar, tidak ada kendala selama persiapan. Kalau KPPS semuanya adalah pegawai di sini, kecuali saksi-saksi dan panwaslu kecamatan," kata Desi.