Sebanyak 6 warga binaan Lapas Kelas IIA Lubuklinggau beragama Kristen mendapat remisi di hari perayaan Natal. Selain itu, kunjungan saat perayaan Natal di lapas juga akan diprioritaskan.
KPLP Lapas Kelas IIA Lubuklinggau Adi Kusuma mengatakan usulan remisi khusus Natal tersebut diberikan kepada warga binaan yang beragama Kristen yang telah memenuhi sejumlah persyaratan.
"Terkait remisi, memang benar di tanggal 25 Desember ini ada remisi khusus, itu remisi Natal. Ini diperuntukan untuk warga binaan yang beragama Kristen. Nanti besarannya tergantung berapa tahun dia sudah menjalani hukuman di Lapas. Usulan ada 6 orang," katanya saat dikonfirmasi detikSumbagsel, Sabtu (21/12/2024).
Adi menjelaskan 6 warga binaan yang diusulkan tersebut menurutnya telah memenuhi sejumlah persyaratan untuk mendapat remisi.
"Yakni berkelakuan baik, mengikuti program pembinaan, dan tidak melanggar aturan serta tata tertib yang ada di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau," ujarnya.
Adi mengatakan untuk surat keputusan (SK) remisi Natal tersebut akan keluar sebelum tanggal 25 Desember. SK tersebut nantinya akan langsung diumumkan dan disampaikan kepada warga binaan yang menerimanya.
"Warga binaan yang merayakan Natal untuk peribadatan itu sudah diatur juga dari pusat. Jadi nanti kita akan mengikuti peribadatan Natal itu dari pusat melalui zoom," jelasnya.
Adi menyebutkan pihak lapas juga membuka sepenuhnya untuk kunjungan bagi warga binaan yang akan merayakan Natal, baik itu untuk peribadatan maupun kunjungan dari keluarga mereka.
"Nah kita juga sudah usulkan dengan pihak gereja terdekat, bagaimana mereka dan keluarganya bisa merayakan ibadah Natal di Lapas. Kalau untuk kunjungan biasanya di hari Natal kita prioritaskan mereka, seperti kalau yang muslim kalau hari lebaran kita buka kunjungan penuh. Meskipun warga yang merayakan ini sedikit ya tetap kita buka untuk mereka baik peribadatan maupun untuk bertemu dengan keluarganya," ujarnya.
Rusaknya alat metal detector dan X-Ray di lapas Sumsel menjadi sorotan anggota DPR. Di Lapas Lubuklinggau, alat itu sudah rumah 5 tahun. [555] url asal
Hampir seluruh alat metal detector dan X-Ray di sejumlah lembaga pemasyarakatan (lapas) di Sumatera Selatan hingga Indonesia rusak. Hal ini terungkap setelah anggota komisi XIII FPKB DPR RI Prana Putra Sohe melakukan kunjungan kerja (kunker) di lapas Sumsel.
KPLP Lapas Kelas IIA Lubuklinggau Adi Kusuma pun buka suara setelah legislator asal Lubuklinggau tersebut menyoroti permasalahan tersebut.
"Terkait alat X-Ray yang digunakan untuk melihat barang titipan dari warga yang mau membesuk itu memang saat ini kondisinya tidak bisa terpakai lagi (rusak)," katanya saat ditemui detikSumbagsel, Kamis (19/12/2024).
Adi membeberkan sudah sekitar 5 tahun mesin X-Ray di Lapas Kelas IIA Lubuklinggau rusak. Hingga saat ini belum ada perbaikan atau perawatan. Menurutnya kondisi itu tidak hanya terjadi di Lubuklinggau atau Sumsel, tapi juga di seluruh Indonesia.
"Sudah cukup lama rusaknya, mungkin sekitar lima tahun dan hampir di seluruh Indonesia kondisinya sama. Sudah kita laporkan sebelumnya dan saat ini kita sedang menunggu keputusan dari pusat," ungkapnya.
Adi mengungkapkan kebanyakan mesin X-Ray yang ada di tiap lapas di Indonesia berasal dari Jerman yang harganya sampai ratusan juta sehingga belum pernah dilakukan perawatan ataupun perbaikan karena harganya yang besar.
"Karena mesinnya rusak, saat ini untuk pengecekan kita melakukannya dengan sistem manual yaitu diperiksa satu persatu oleh petugas. Kalo untuk metal detektor kita masih menggunakannya karena barangnya tergolong masih murah," ujarnya.
Selama melakukan pengecekan manual, Adi mengaku pihak lapas berhasil mengamankan warga yang hendak menyelundupkan handphone ke dalam lapas pada Senin (21/10/2024).
"Kemarin ada temuan, ada yang berupaya dari salah satu keluarga binaan lapas yang hendak menyelundupkan HP ke lapas. HP itu dimasukkannya ke dalam bungkusan nasi. Akhirnya kita BAP dan periksa, kemudian hp nya kita musnahkan dan yang bersangkutan kita beri hukuman disiplin," ucapnya.
Adi mengatakan saat ini pihak Lapas Kelas IIA Lubuklinggau sudah membuat laporan mengenai perbaikan mesin X-Ray serta penambahan petugas untuk penjagaan lapas.
"Kemarin sudah disampaikan oleh anggota DPR komisi XIII terkait keluhan serta masukan agar bisa ada perbaikan di Lapas ini, termasuk salah satunya X-Ray itu. Sama hal nya dengan penambahan petugas karena petugas sekarang jumlahnya 7 orang," tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, Anggota komisi XIII FPKB DPR RI Prana Putra Sohe menyoroti kondisi alat metal detector dan X-Ray di sejumlah lembaga pemasyarakatan (lapas) di Sumatera Selatan yang kondisinya banyak rusak.
"Saya kemarin menyoroti bahwa pertama, hampir setiap semua lapas ternyata tidak hanya Lubuklinggau dan Muara Beliti, itu alat detektor dan metal detector-nya rusak," kata Prana.