KOMPAS.com - Di tengah gegap gempita warga Suriah atas jatuhnya rezim Presiden Bashar al-Assad, sebuah pintu di pinggiran kota menyeruak "memanggil" untuk dijelajahi.
Di balik pintu itu, terdapat kompleks penjara bawah tanah yang luas, setinggi lima lantai, yang berisi tahanan terakhir rezim Assad, yang terengah-engah.
Tempat tersebut merupakan penjara Saydnaya, sebuah kompleks penyiksaan paling terkenal dalam pusat penahanan pemerintah Suriah.
Diberitakan France24, Senin (9/12/2024), kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menguasai penjara Saydnaya di dekat Damaskus pada Minggu (8/12/2024).
Pasukan yang dipimpin oleh Abu Mohammed al-Julani itu menguasai penjara setelah berhasil memasuki ibu kota dan memaksa Presiden Suriah Bashar al-Assad melarikan diri ke Rusia.
Para pemberontak menyerbu fasilitas tersebut, membebaskan ribuan orang yang sebagian besar merupakan penentang rezim Assad.
Para tahanan keluar dari Saydnaya, bersatu kembali dengan keluarga yang telah lama meyakini bahwa mereka telah dieksekusi.
Sebuah masjid yang berjarak sekitar 20 kilometer dari lokasi penjara pun telah menjadi titik pertemuan bagi para tahanan untuk menemukan keluarga mereka.
Tujuan akhir bagi penentang rezim Assad
Dilansir dari laman Amnesty International, penjara militer Saydnaya terletak 30 kilometer di utara ibu kota Damaskus, Suriah.
Penjara ini berada di bawah yurisdiksi Menteri Pertahanan dan dioperasikan oleh pasukan polisi militer.
Direncanakan dibangun pada 1978, total luas penjara Saydnaya diperkirakan sekitar 1,4 kilometer persegi.
Sebelum pembangunan, pemerintah Suriah disebut menyita tanah dari pemilik lokal dan menyerahkannya kepada Kementerian Pertahanan untuk membangun penjara.
Pembangunan kemudian dimulai pada 1981 dan berlanjut hingga 1986, dengan tahanan pertama tiba pada 1987.
Penjara Saydnaya menjadi terkenal karena praktik penyiksaan dan kekerasan berlebihan setelah kerusuhan yang dilakukan oleh para tahanan pada 2008.
Sejak krisis di Suriah pada 2011, penjara tersebut telah menjadi tujuan akhir bagi para penentang rezim Assad.
Saydnaya terdiri dari dua bangunan utama, yang mampu menampung antara 10.000 hingga 20.000 tahanan.
Bangunan "putih" menampung personel militer yang ditahan karena kejahatan atau pelanggaran ringan, seperti pembunuhan, pencurian, korupsi, atau penghindaran wajib militer.
Sementara, gedung “merah” diperuntukkan bagi tahanan warga sipil dan personel militer yang dipenjara atas pendapat yang disampaikan, aktivitas politik, atau tuduhan terorisme yang dibuat-buat.
Tahanan biasanya dipindahkan ke fasilitas ini setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun di tempat penahanan lain.
Pemindahan sering kali terjadi setelah persidangan yang sangat tidak adil di pengadilan militer rahasia.
Tahanan lain tiba di penjara tanpa bertemu hakim dan bahkan tidak mengetahui tuduhan terhadap diri mereka ataupun berapa lama mereka akan ditahan.
Kesaksian penyintas penjara Saydnaya
Meskipun terkenal, banyak hal tentang operasi di dalam penjara Saydnaya yang masih diselimuti kerahasiaan.
Lembaga swadaya masyarakat juga tidak pernah diizinkan masuk lantaran kunjungan memerlukan izin dari polisi dan intelijen militer.
Akibatnya, informasi yang tersedia hanya diperoleh dari kesaksian mantan tahanan dan penjaga.
Pada 2017, Amnesty International menggunakan pemodelan 3D untuk merekonstruksi tata letak penjara berdasarkan kisah 84 penyintas.
"Kami mengandalkan ingatan akustik para mantan tahanan untuk membangun gambaran terperinci tentang operasi penjara," kata Aymeric Elluin, petugas advokasi senjata dan konflik di Amnesty International Perancis.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun Amnesty International dari para penyintas, setiap hari mereka mengalami penyiksaan sistematis dan menerima perlakuan yang merendahkan martabat.
Bukan hanya berhadapan dengan kondisi yang tidak manusiawi, mereka juga harus kehilangan tahanan lain karena ada yang meninggal dunia setiap hari.
Para penjaga penjara Saydnaya dilaporkan dengan kejam menegakkan aturan untuk tidak bersuara sama sekali.
Sebagai gantinya, mereka menuliskan pesan-pesan untuk berkomunikasi dalam sebuah coretan di dinding sel penjara.
Dilaporkan The Guardian, Senin, satu dari sekian banyak pesan yang tertulis adalah "tab, khadzni", yang memiliki arti "sudah cukup, bawa aku saja".
Selembar kertas lain turut ditemukan di tanah dalam kondisi robek dan terinjak. Kertas ini merinci kematian seorang tahanan, yang tampaknya ditulis oleh tahanan lain yang ingin mendokumentasikan kematian temannya.
Catatan itu, yang ditulis oleh seorang tahanan berusia 63 tahun yang menuliskan dirinya sebagai Mohammed Abdulfatah al-Jassem, mengaku melihat tahanan lain jatuh dan kepalanya terbentur saat kejang.
Tahanan dilaporkan meninggal, padahal masih ditahan
Di sisi lain, penjara Saydnaya tidak mengenal interogasi, sehingga penyiksaan terhadap para tahanan pada dasarnya bukan digunakan untuk memperoleh informasi.
Para tahanan juga tidak memiliki akses ke pengacara. Bahkan, dalam beberapa kasus, pemerintah memberi tahu keluarga bahwa tahanan telah meninggal, padahal sebenarnya masih ditahan di Saydnaya.
Bagi banyak orang, penjara Saydnaya adalah harapan terakhir untuk menemukan orang-orang terkasih yang hilang.
Yamen al-Alaay, seorang pemuda berusia 18 tahun dari pedesaan Damaskus, mengatakan telah berpindah-pindah dari satu penjara ke penjara lain untuk mencari pamannya yang menghilang pada 2017.
"Kami tiba hari ini, kami mencari dan mencari, tetapi kami tidak menemukan apa pun. Mereka yang berada di sayap merah masih belum ditemukan," kata Alaay, sembari berjanji akan kembali besok pagi.
Saat orang-orang meninggalkan penjara Saydnaya pada larut malam, ribuan orang lainnya yang berharap menemukan keluarganya masih terus berdatangan dari Damaskus.