Bulan Ramadan penuh berkah, dengan Salat Tarawih sebagai ibadah sunnah. Berapapun rakaatnya, semua baik. Konsistensi lebih utama dari jumlah rakaat. [425] url asal
Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Banyak keistimewaan yang terkandung di hari ini. Salah satunya adalah ibadah Salat Tarawih.
Salat Tarawih adalah salat sunnah yang hanya dilaksanakan saat malam bulan Ramadan. Salat ini bisa dilaksanakan secara berjamaah di masjid ataupun dikerjakan sendiri di rumah. Pelakasanaan rakaat salat Tarawih juga berbeda-beda. Ada yang 11 rakaat (dengan witir) atau ada yang 23 rakaat. Lalu bagaimana hukumnya mengerjakan salat Tarawih jika tidak selalu sama? Terkadang 11 atau 23 rakaat?
Menurut Muhammad Abdul Mughis, hal ini tidak masalah.
"Boleh boleh saja karena itu sunah," jelasnya.
Menurutnya baik 11, 13 atau 23 rakaat Salat Tarawih yang kita kerjakan sama-sama baik dan insyaallah mendapat pahala dari Allah SWT.
"Bagaimana kita melaksanakan baik yang mana? Semuanya baik baik. Yang delapan juga kebaikan maupun 20 rakaat juga kebaikan," katanya
Namun menurutnya, yang banyak tentu lebih baik yang sedikit meski begitu kembali lagi Ia menekankan kalau melaksanakan Salat Tarawih, berapapun rakaatnya tetap merupakan perbuatan baik.
"kalau kita ingin lebih utama tentunya mengerjakan yang paling banyak karena yang banyak itu melebihi dari hitungan sedikit," tambahnya
Namun, menurutnya konsistensi dalam melaksanakan salat tarawih pastinya lebih baik dari pada jumlah rakaat Salat Tarawih yang dikerjakan.
"Kalau misalnya kita ingin istikamah aku kan salat yang lebih baik yang lebih banyak bukan berarti sedikit tidak baik semua baik tapi yang lebih banyak adalah yang lebih baik," Tutupnya.
Artikel ini ditulis dari sejumlah video pendek program Kuliah Ramadhan (Kurma) yang diproduksi detikJatim, ditayangkan khusus di bulan suci Ramadan. Kurma menghadirkan pendakwah yang mengulas seputar puasa dipadu video sketsa. Pada season 3 tahun ini, Kurma kembali mengajak kiai-kiai kampung di Jawa Timur. Saksikan terus 30 episode Kurma hanya di detikJatim
Selebgram Adrena Isa Zega menjalani salat tarawih sendiri di Lapas Perempuan Klas IIA Malang, membantah ditolak karena perbedaan keyakinan. [592] url asal
Selebgram Adrena Isa Zega memilih menjalankan salat tarawih sendiri di Lapas Perempuan Klas IIA Malang tapi membantah karena ditolak. Dia sebutkan karena adanya perbedaan keyakinan yang dianut. Mengenai hal ini, pihak lapas Perempuan Klas II A Malang buka suara.
Kepala Lapas Kelas IIA Malang Yunengsih membenarkan Isa Zega saat ini menjalani ibadah tarawih sendiri. Kendati begitu Isa tetap mengikuti kegiatan keagamaan lainnya. Baik tadarus Qur'an dan pondok pesantren.
"Iza Zega untuk kegiatan salat tarawih dan sholat wajib dilaksanakan sendiri di kamar. Namun untuk kegiatan ponpes Isa masih mengikuti seperti warga binaan yang lain," kata Yunengsih kepada detikJatim, Selasa (11/3/2025).
Sayangnya, Yunengsih tidak menjelaskan lebih lanjut tentang alasan Isa Zega memilih untuk salat tarawih sendiri. Termasuk tentang perbedaan keyakinan seperti apa yang membuat Isa Zega memilih salat tarawih sendiri.
Isa menempati Lapas Perempuan Klas IIA Malang sejak Polda Jawa Timur melimpahkan perkaranya ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang untuk memasuki masa penuntutan.
Sebelumnya, transgender yang sedang menjalani sidang kasus dugaan pencemaran nama baik terhadap Bos MS Glow Shandy Purnamasari itu menampik kabar bahwa dirinya ditolak oleh jemaah salat tarawih. Dia mengaku memilih salat sendiri karena berbeda keyakinan.
"Ada pendapat-pendapat yang berbeda antara yang saya anut, dengan yang lapas anut, tapi bukan ditolak," kata Isa Zega menjawab pertanyaan wartawan di PN Kepanjen.
Kendati begitu, Isa mengaku hampir selama satu pekan dirinya ikut salat tarawih berjamaah. Namun kemudian Isa memilih untuk tidak mengikuti salat tarawih berjamaah karena usulannya terkait jarak saf imam dan makmum tidak dapat dipenuhi.
"Kita ada satu minggu jemaah, tapi selanjutnya enggak, karena saya mengajukan bahwasanya, maksudnya saf imam dan makmum itu sangat jauh berbeda. Sedangkan pendapat saya, makmum dan imam kalau perempuan itu harus sebaris, hanya maju sedikit saja gitu," bebernya.
Karena itulah, Isa kemudian memilih untuk salat tarawih sendiri. Begitu juga ketika menunaikan salat 5 waktu.
"Salatnya sendiri, sama seperti di sana kan (Lapas Perempuan) diwajibkan cat rambut warna hitam, saya langsung mengajukan bahwasanya saya itu sudah melakukan solat 5 waktu, sudah memperbaiki diri sendiri. Jadi saya tidak mau rambut saya dicat warna hitam, jadi tidak ada lapas menolak, siapa bilang," terangnya.
Dalam kesempatan itu, Isa membantah adanya penolakan dirinya untuk ikut menjalankan salat tarawih berjemaah di Lapas Perempuan Klas IIA Malang.
"Nggak ada ditolak, salah. Lapas sangat memperhatikan mami. Cuma memang karena mami kan, mami itu nggak bisa kalau imamnya perempuan. Di sana kan (Lapas Perempuan) imamnya perempuan," tegasnya.
Isa pun menjelaskan pengalaman dirinya beribadah di Mekkah dan Madinah. Imam salat adalah laki-laki dan jemaah perempuan dan laki-laki bergabung menjadi satu.
"Nah kalau di Mekkah, di Madinah kan imamnya laki-laki. Jadi kita bisa perempuan dan laki-laki bersatu," pungkasnya.