DEIR EZ ZOR, KOMPAS.com - Serangan udara Amerika Serikat (AS) pada Jumat (20/12/2024) menewaskan pemimpin kelompok ISIS, Abu Yusif, di Suriah.
Pasukan Komando Pusat AS (Centcom) melakukan serangan yang menargetkan Yusif—juga dikenal sebagai Mahmud—di Provinsi Deir ez Zor, Suriah timur.
Mereka mengatakan, wilayah tersebut sebelumnya dikuasai rezim Suriah dan pasukan Rusia sebelum jatuhnya Presiden Bashar Al Assad.
Anggota ISIS lainnya juga tewas dalam serangan itu, menurut keterangan AS yang dikutip Sky News.
Komandan Centcom Jenderal Michael Erik Kurilla mengatakan, "Seperti yang dinyatakan sebelumnya, AS—bekerja sama dengan sekutu dan mitra di kawasan tersebut—tidak akan membiarkan ISIS memanfaatkan situasi saat ini di Suriah dan membangun kembali kekuatannya."
"ISIS bermaksud membebaskan lebih dari 8.000 anggota yang saat ini ditahan di berbagai penjara di Suriah."
"Kami akan secara agresif menargetkan para pemimpin dan anggota ISIS, termasuk yang hendak beroperasi di luar Suriah," lanjutnya.
ISIS menaklukkan sebagian wilayah Irak dan Suriah pada 2014, memanfaatkan perang saudara di Suriah untuk mengeklaim sejumlah daerah, kemudian mendeklarasikan diri sebagai pemimpin setempat.
Saat puncak kekuasaannya, jutaan orang hidup di bawah kendali ISIS yang menerapkan hukum keras dan pembunuhan massal terhadap minoritas.
Namun, mereka dipukul mundur oleh koalisi pasukan AS dan kehilangan kendali atas seluruh wilayah Timur Tengah kekuasaannya pada 2019.
Dikutip dari kantor berita AFP, AS selama bertahun-tahun melakukan serangan dan penggerebekan berkala untuk mencegah kebangkitan ISIS.
Gempuran ditingkatkan dengan melancarkan puluhan serangan sejak jatuhnya Assad.
Pada 8 Desember 2024, hari ketika pemberontak merebut Ibu Kota Damaskus di Suriah, Washington mengumumkan serangan terhadap lebih dari 75 target ISIS.
Menurut Centcom, serangan itu untuk memastikan ISIS tidak berusaha memanfaatkan situasi guna membangun menghimpun kekuatan kembali di Suriah tengah.
Selanjutnya pada Senin (16/12/2024), pasukan AS menewaskan 12 anggota ISIS di bekas rezim dan wilayah yang dikuasai Rusia.
ISIS kini terus melakukan pemberontakan di beberapa wilayah Suriah, Irak, dan Afghanistan, sedangkan afiliasi mereka masih aktif di sejumlah daerah Afrika.