PEMATANGSIANTAR, KOMPAS.com — Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Mugiyanto Sipin mendorong Pemerintah Kota Pematangsiantar segera menyelesaikan konflik agraria yang telah berlangsung lama di Kampung Baru, Kelurahan Gurilla, Kecamatan Siantar Sitalasari, Sumatera Utara.
Hal ini disampaikan Mugiyanto saat bertemu dengan para petani pejuang reforma agraria yang tergabung dalam Serikat Petani Sejahtera Indonesia (SEPASI), dalam acara *public hearing* yang digelar Yayasan Gerak Nusantara Sejahtera di Kampung Baru, Jumat (16/5/2025).
“Sembari kami berkoordinasi dengan kementerian terkait, Forkopimda di sini bisa mencari jalan penyelesaian sementara. Targetnya supaya situasi di sini kondusif, masyarakat dapat bekerja seperti sebelumnya,” kata Mugiyanto.
Para petani telah menempati lahan di Kelurahan Gurilla dan Bah Sorma sejak 2004 untuk kebutuhan pemukiman dan pertanian. Namun pada 2022, terjadi konflik dengan PTPN III Unit Kebun Bangun—yang kini menjadi PTPN IV Region I.
Saat itu, para petani digusur paksa oleh aparat gabungan yang terdiri dari personel TNI, Polri, sekuriti, dan PAM Swakarsa. Puluhan petani mengalami luka-luka dan rumah mereka dirusak dalam penggusuran tersebut.
Kini, sebagian kecil petani yang menolak ganti rugi dari pihak perkebunan masih mendiami lahan tersebut, meskipun terus mendapat intimidasi dan somasi.
Mugiyanto menegaskan bahwa kasus kekerasan terhadap petani akan menjadi perhatian serius Kementerian HAM.
“Kami akan terus memonitor dan ini menjadi atensi kami terhadap peristiwa yang ada di sini. Kami juga akan berkoordinasi dengan Forkopimda, baik melalui Kementerian HAM secara langsung maupun kantor wilayah HAM di Sumatera Utara,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Pematangsiantar Herlina menyebut perjuangan para petani sangat berat. Ia menegaskan kesiapan pemerintah kota untuk menjadi fasilitator dalam penyelesaian konflik tersebut.
“Kami juga meminta petunjuk dari Wamen HAM untuk menyelesaikan masalah ini. Mudah-mudahan momen ini menjadi pencerahan untuk menyelesaikan persoalan ini tanpa merugikan pihak manapun,” katanya.
Ketua SEPASI, Tiomerli Sitinjak, mengatakan para petani telah lebih dari 20 tahun menduduki lahan tersebut untuk bertani dan membangun tempat tinggal. Konflik semakin kompleks dengan adanya proyek pembangunan Jalan Tol Kuala Tanjung–Tebing Tinggi–Parapat (Kutepat) yang melintasi lahan masyarakat.
“Selama empat tahun berhadapan dengan PTPN IV, ini kali pertama Pemkot Pematangsiantar hadir di tengah warga Gurilla,” ucap Tiomerli.
Ia menambahkan, konflik ini berdampak besar pada ekonomi warga.
“Okupasi yang terjadi juga mengakibatkan persoalan ekonomi. Kami petani tidak punya ladang untuk bertani lagi dan tidak punya pekerjaan. Kami berharap penyelesaian konflik agraria di sini segera dilakukan pemerintah,” tuturnya.