KOMPAS.com - Anak pemilik toko roti di Cakung, Jakarta Timur, George Sugama Halim, viral setelah video penganiayaan yang dilakukannya beredar di media sosial pada Jumat (13/12/2024).
Menurut pengakuan korban, George pernah mengeklaim dirinya kebal hukum sehingga bisa melakukan kekerasa terhadap pegawainya.
"Terus dia juga sempat ngomong, 'Orang miskin kayak elu enggak bisa masukin gua ke penjara, gua ini kebal hukum'. Dia sempat ngomong kayak gitu," ujar Dwi.
Mengenai perilaku George, apa yang menyebabkan seseorang sesumbar bahwa dirinya kebal hukum? Berikut penjelasan psikolog.
Merasa punya power
Psikolog dari Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo mengatakan, ada tiga kemungkinan yang membuat George sesumbar dirinya kebal hukum.
"Alasan pertama adalah dia merasa punya power, karena anak bos toko roti, dia bisa melakukan apa saja, karena orangtuanya bos toko itu," ujar Ratna saat dihubungi Kompas.com, Rabu (18/12/2024).
Menurut dia, power itu bisa digunakan oleh seseorang karena statusnya, seperti atasan atau pimpinan.
Ratna menjelaskan, sindrom power ini sering membuat seseorang menjadi menganggap bahwa orang lain itu hanya bawahannya atau mereka yang tidak memiliki kuasa seperti orang tersebut.
"Karena anak bos toko ini merasa punya power orangtuanya, dia juga merasa, 'saya juga punya kuasa pada toko ini', artinya yang punya power seharusnya orangtuanya," lanjut Ratna.
Dari sini, Ratna menganggap ada fenomena bias power orangtua, sementara George merasa punya power seperti orangtuanya.
Emosi tidak terkontrol
Alasan kedua yakni tidak adanya kontrol emosi, yang menyebabkan George mudah tersulut emosi dan sulit mengendalikan diri.
Ratna mengatakan, kondisi mudah tersulut emosi ini cenderung membentuk kepribadian seseorang menjadi reaktif dalam bentuk agresif.
Bagi sebagian orang, komentar netral yang disampaikan orang lain pun bisa dianggap reaktif, dan muncul perilaku negatif.
"Perilaku negatif ini bisa secara verbal seperti menghina, atau agresif memukul, mencubit, melukai, dan sebagainya," ucap Ratna.
Ratna mengatakan, orang yang mudah tersulut emosi ini seperti ada kebutuhan di mana kasih sayang yang diterima itu tidak cukup, sehingga dia mencari perhatian dari orang lain.
Ia menambahkan, jika menilik dari kasus George, George merasa power yang dimilikinya bisa mengendalikan orang lain, akhirnya dia menuntut untuk bisa melakukan apa saja, sehingga sesumbar kebal hukum itu pun terucap.
"Jadi, ada kesombongan, ada hal yang dia pikir itu bisa melakukan apa saja terhadap orang yang dia anggap rendah," kata Ratna.
Berdasarkan pengamatan Ratna, kata-kata sesumbar itu dikeluarkan karena George merasa karyawannya tidak akan mungkin menuntut balik atau melawan dirinya, sebab karyawan masih membutuhkan gaji dari uang keluarga George.
Pola asuh yang bermasalah
Alasan ketiga yakni pola asuh orangtua yang bermasalah.
Ratna beranggapan, pola asuh bermasalah yang dialami anak-anak sejak kecil membuat anak tersebut ketika dewasa menjadi tidak memanusiakan orang lain, tidak punya etika, dan tidak bisa menghormati orang lain.
"Bisa jadi didikan ortu dulunya yang memberikan apa saja kepada anaknya, kalau dalam istilah psikologi adalah permisif, artinya anak minta apa saja dituruti," kata Ratna.
Saat orangtua memanjakan anaknya, maka anak akan merasa seolah-olah dia raja, anak itu bisa mendapatkan apa saja, apa yang diinginkan sang anak akan terpenuhi.
"Dalam hal ini, seharusnya George berterima kasih pada karyawan yang kerja pada orangtuanya," imbuhnya.
Dari kasus ini, Ratna menyampaikan bahwa pentingnya untuk mengontrol emosi, dan tetap menghormati orang lain dalam segala aspek, baik dari segi bisnis maupun keseharian.