Persoalan Hukum dan Ancaman Bahaya Merkuri di Balik Tambang Emas Ilegal Sekotong
Persoalan tambang emas ilegal di Sekotong, Lombok Barat menjadi sorotan. Selain mengenai legalitasnya, bahaya merkuri mengintai warga sekitar. Halaman all
(Kompas.com) 23/01/25 18:58 58997
MATARAM, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyindir persoalan tambang emas ilegal di Sekotong, Lombok Barat.
Selain persoalan aktivitas penambangan ilegal, sektor kesehatan menjadi sorotan KPK karena kandungan merkuri yang dapat membahayakan masyarakat setempat.
Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Korsup Wilayah V KPK Dian Patria menyebut, penyelidikan terkait kasus penambangan tersebut masih berjalan di Direktorat Jendral (Dirjen) Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
"Masih diproses Gakkum LHK, nanti kita lihat. Teman-teman di KPK masih mengawasi juga," kata Dian, Kamis (9/1/2025).
Menurut Dian, instansi kepemerintahan, masyarakat, dan mahasiswa seharusnya turut berbicara mengenai aktivitas penambangan yang merugikan negara sampai Rp 1,8 triliun per tahun tersebut.
Selain itu, Dian menyindir terkait pencemaran lingkungan akibat kandungan merkuri atau air raksa itu.
Dia mengungkit adanya korban karena kandungan merkuri yang tercemar ke seluruh lini kehidupan masyarakat Sekotong.
"Saya pernah dengar di tahun 2018 ada bayi lahir cacat di daerah Sekotong. Saya dengar juga kemarin banyak yang batuk, banjir-banjir, longsor di Sekotong," ujar Dian.
Menurut Dian, peristiwa tersebut terjadi akibat pengaruh dari kegiatan penambangan ilegal.
Persoalan tersebut perlu menjadi atensi yang serius dari seluruh aparat penagak hukum (APH) dan instansi pemerintah daerah (pemda) di NTB sebagai upaya menghindari masalah kesehatan di masa depan.
Namun, dia mengatakan, tidak dapat berbicara banyak terkait persoalan tersebut karena sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut.
Bahaya merkuri
Sementara itu, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, Adriana Eka mengungkapkan alasan penduduk Sekotong berisiko tercemar merkuri.
"Pertama langsung dari pertambangan emasnya, dari proses pengolahan yang mereka lakukan (anorganik). Kedua adalah dari limbah yang terbawa ke laut, masuk ke dalam tubuh dalam bentuk merkuri yang organik," kata Adriana saat ditemui di Universitas Mataram pada Selasa, (21/1/2025).
Penambangan di sekotong dilakukan dengan menggunakan merkuri untuk menghancurkan emas yang tersimpan dalam bebatuan.
Saat dihancurkan, emas dengan merkuri dipisahkan dengan dibakar sehingga merkuri menguap dan emas tertinggal.
"Itukan tidak keliatan (uap merkuri), tapi begitu terhirup, iritatif. Semakin dekat itu baunya menyengat. Semakin jauh bukan berarti kita sudah aman. Jadi itu kan terbawa udara, kemana pun udara pergi dia akan ikut," ucapnya.
Saat terhirup, merkuri dengan cepat terserap oleh tubuh dan langsung besentuhan dengan kapiler darah manusia.
Darah yang sudah terpapar merkuri kemudian akan terfiltrasi ke ginjal, menyebabkan ginjal terikat dengan senyawa tersebut sampai waktu tertentu.
Dampaknya, keterikatan tersebut mengakibatkan kerja ginjal kian berat. Seharusnya, saringan ginjal bebas untuk menyaring senyawa yang tidak dibutuhkan tubuh manusia.
"Dampaknya dari merkuri anorganik itu ada di ginjal," katanya.
Selain di ginjal, merkuri anorganik juga dapat menembus sawar darah otak. "Tidak semua senyawa bisa menembus sawar darah otak, tapi merkuri itu bisa menembus."
Merkuri tersebut, kata dia, akan mudah untuk terikat dan terakumulasi dengan saraf otak manusia.
Sel-sel neuoran manusia akan membentuk ikatan yang kuat dengan merkuri.
Keterikatan merkuri dengan saraf otak akan menimbulkan beberapa dampak, di antaranya, gangguan koordinasi keseimbangan, gangguan sensasi, dan gangguan kognitif.
Saat manusia mengalami keracunan merkuri, manusia tidak mampu untuk berjalan mengikuti satu garis lurus. "limbung gitu. Seperti orang mabok jalannya," katanya.
Sementara itu, terkait gangguan sensasi, manusia akan merasakan panas, nyeri, bahkan merasakan sentuhan antara saraf perifer yang ke arah sentra tubuh manusia menjadi berbeda.
Hal tersebut disebabkan koordinasi saraf sensoriknya terjadi gangguan.
"Kalau misalnya tertusuk, nyerinya itu tidak bisa terasa. Bayangkan jika dia tertusuk duri, pisau tajam kemudian luka, dia tidak merasakan sakit. Itu kan berbahaya," ucap dia.
Selain itu, Adriana mengungkapkan, penelitian para ahli kini lebih mengarah ke kemampuan kognitif. Terdapat hubungan antara akumulasi merkuri dengan gangguan kognitif.
"Anak-anak sejak masa kandungan terpapar merkuri, itu mempunyai IQ (intelligence quotient) yang lebih rendah dibanding yang tidak terpapar," katanya.
Sementara itu, mengenai pencemaran merkuri organik, kata dia, merkuri dari bekas kegiatan pertambangan itu dibuang sembarang ke limbah.
Setelah dari limbah, merkuri akan mengalir sampai ke laut yang dekat dengan wilayah Sekotong.
Sampainya di laut, yang awalnya berbentuk logam, merkuri akan larut oleh bakteri menjadi bentuk organik.
Dokumentasi/KPK Penampakan tambang emas ilegal Sekotong, Lombok Barat, NTB, Rabu (18/12/2024).Perubahan tersebut terjadi di ruang laut karena kadar oksigen rendah pada kedalaman tertentu.
"Kalau sudah merkuri berubah dari logam menjadi organik, cepat sekali larut di dalam molekul yang ada di dalam tubuh mahluk hidup. Jadi kalau dia masuk ke ikan, akan cepat terikat di jaringan-jaringan ikan," ucap Adriana.
Selain menjadi penambang, masyarakat Sekotong banyak bekerja sebagai nelayan di laut, bahkan ikan laut menjadi menu utama bagi masyarakat di sana.
Melalui ikan yang terpapar, merkuri tersebut kemudian pindah sampai ke masyarakat Sekotong.
"Merkuri organik itu lebih besar jumlahnya ketimbang merkuri anorganik," katanya.
Adriana mengaku melakukan penelitian kadar merkuri pada ikan di pasar Sekotong, tetapi dia belum dapat mempublikasikan penelitian itu karena dianggapnya masih kekurangan data.
Menurut dia, ikan yang sudah sampai di pasar belum tentu berasal dari laut sekitar Sekotong.
"Yang menenangkan kami, kadar merkurinya di bawah ambang. Tapi kami belum bisa memastikan ikannya dari sana saja (laut sekotong). Kan ikannya bisa berasal dari mana saja."
Adriana menyampaikan, merkuri dapat diperiksa melalui urine.
Normal merkuri dalam tubuh manusia tidak bisa lebih dalam 7 mikrogram perliter. Sedangkan dari 8 sampai 25 telah memasuki spesifikasi waspada.
"Waspada suatu saat nanti terjadi keracunan," katanya.
Namun, jika lebih dari 25 mikrogram per liter, ini telah memasuki tingkatan darurat. Harus mendapatkan perawatan khusus.
Akibat dari merkuri organik yang dinilai lebih berbahaya dari merkuri anorganik, yakni dapat mengurangi kualitas generasi mendatang, bahkan sampai dapat membuat generasi menjadi cacat.
"Dampak merkuri tidak dapat dilihat melalui jangka pendek, melainkan jangka panjang. Penambang yang tidak merasakan apa-apa sekarang, 10 atau 20 tahun ke depan akan merasakan akibatnya," ucapnya.
Semakin banyak merkuri memasuki tubuh manusia, akan semakin cepat gejala dari merkuri itu dirasakan. Masa perkembangan dapat menentukan kerentanan terpapar merkuri.
Semakin muda seseorang, semakin rentan terpapar. Oleh sebab itu, bayi yang masih di dalam tubuh seorang ibu dapat lebih mudah terpapar.
"Kenapa perhatian kita itu adalah ibu. Karena ini nanti ketika hamil, janinnya nanti adalah makhluk yang paling rentan," kata Adriana.
"Jadi kalau ibu hamil bisa menyebabkan mulai dari keguguran, kelainan kongenital, bahaya untuk ibunya juga," ucapnya.
Adriana memberi contoh kasus di Minamata Jepang. Gejala yang terjadi di Minamata, kata dia, berkemungkinan terjadi juga di Sekotong.
"Minamata munculnya setelah pabrik membuang limbah ke laut. Pabrik itu beroperasi sekitar 20 tahun sebelumnya, baru dia muncul gejala penyakit minamata itu," katanya.
Kendati demikian, pabrik yang sudah tidak lagi beroperasi membuat masyarakat minamata dapat mengonsumsi kembali ikan dari laut, bahkan menjadikan kota tersebut tempat wisata.
Dari kejadian itu, Adriana menginginkan masyarakat menyadari risiko yang dapat menimpa kemudian.
Untuk mengurangi dampak buruk, menurut dia, lebih aman memisahkan batu dengan emas menggunakan sianidaketimbang merkuri.
Dengan catatan, tempat pembuangan dapat dijaga dengan baik, manusia juga tidak diperbolehkan berada di tempat tersebut dalam radius tertentu.
"Walaupun sama bahaya, tapi untuk lingkungan lebih aman," ujarnya.
Selain itu, dosen sekaligus dokter itu mengatakan, daun singkong menjadi salah satu sayur yang baik untuk mengurangi merkuri dalam tubuh.
Tanggapan warga Sekotong
Zahit Idris, warga Sekotong berpendapat, masyarakat di sana dilematis menghadapi persoalan tersebut.
Sebab, menambang dan menjadi nelayan merupakan pekerjaan utama bagi masyarakat setempat.
"Itu pekerjaan kami, di sana kita bisa makan dan hidup. Tapi di lain itu kesehatan kami juga terancam, jadi kita bingung," katanya saat ditemui Kompas.com pada Rabu (22/1/2025).
Menurutnya, persoalan ini seharusnya menjadi perhatian yang serius dari aparat penegak hukum (APH) provinsi NTB, mengingat persoalan ini sudah bertahun-bertahun dan tidak dapat diselesaikan sampai saat ini.
"Ini sudah persoalan lama, tapi sampai saat ini belum diselesaikan," ujarnya.
Namun, Idris tidak ingin berkomentar banyak terkait semrawutnya penyelesaian tambang ilegal tersebut.
Menurutnya, persoalan tersebut sangat sensitif dan dapat membahayakan jika dibicarakan secara terbuka.