Disertasi Doktoral Universitas Sahid, Iskandar: Medsos Kunci Atasi Krisis Ideologi Pancasila di Kalangan Generasi Muda
Hasil penelitian Iskandar menunjukkan 83,3 persen pelajar SMA beranggapan Pancasila bukan ideologi permanen dan bisa diganti ideologi lain. Halaman all
(Kompas.com) 23/05/24 14:00 3820
KOMPAS.com - Fondasi ideologiPancasila di kalangan generasi muda Indonesia tampak mulai goyah. Hasil penelitian Iskandar, promovendus Universitas Sahid Jakarta, menunjukkan 83,3 persen pelajar SMA beranggapan Pancasila bukan ideologi permanen dan bisa diganti ideologi lain.
Temuan ini diungkapkan Iskandar saat mempertahankan disertasinya dalam bidang Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta pada Rabu (21/5/2024) dengan judul "Analisis Diseminasi dan Resepsi Ideologi Pancasila Melalui Media Sosial (Studi Kasus YouTube BPIP RI)".
Iskandar memaparkan bahwa fenomena degradasi pemahaman dan penghayatan ideologi Pancasila ini dapat diatasi melalui desiminasi yang masif melalui media sosial.
"Diperlukan upaya keras untuk membendung krisis ideologi Pancasila ini. Salah satu caranya adalah melalui desiminasi Pancasila yang masif dan kreatif melalui media sosial," ujar Iskandar.
Penelitian Iskandar menunjukkan bahwa YouTube BPIP RI, kanal media sosial milik Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), memiliki potensi besar untuk menjangkau generasi muda.
Namun, konten-konten yang disajikan BPIP RI di YouTube dinilai masih kurang menarik dan interaktif bagi generasi muda.
"Dengan fakus pada desiminasi melalui media sosial, akan membuka peluang untuk meningkatkan kesadaran masyarakt terhadap nilai-nilai Pancasila dan memperkuat fondasi kebangsaan," ungkap Iskandar.
Iskandar menegaskan, tujuan penelitian ini adalah menganalisis bagaimana proses komunikasi BPIP dalam mendiseminasikan idiologi Pancasila melalui YouTube serta untuk menjelaskan bagaimana posisi audiens dalam merespon konten yang disampaikan BPIP melalui YouTube.
Penelitian ini, kata dia, menggunakan analisis dengan mengintegrasikan dua teori komunikasi yaitu teori resepsi Stuart Hall dan model komunikasi Lasswell. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
Metode penelitian adalah studi kasus untuk menganalisis lebih terperinci dan mengamati bagaimana pesan idiologi Pancasila disebarkan, diterima, dan diproses oleh audien YouTube, serta faktor-faktor apa yang mempengaruhi proses tersebut.
Menurut Iskandar, hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi khalayak penonton kanal YouTube BPIP mayoritas pada posisi negosiasi.
"Untuk mengubah resepsi khalayak dari posisi negosiasi menjadi posisi dominan, maka dibutuhkan gimik simbolik," katanya.
Saran-saran diberikan untuk meningkatkan efektivitas desiminasi idiologi Pancasila, jelas Iskandar, termasuk penelitian yang lebih mendalam tentang respon audien, peningkatan kualitas konten, memperkuat keterlibatan audien, dan teruma memantau danpak desiminasi idiologi Pancasila melalui media sosial.
Selain itu, jelas Iskandar, saran juga mencakup pemberian hadiah atau beasiswa sekolah dan kuliah dari BPIP.
Diharapkan bahwa penerapan saran-saran tersebut dapat meningkatkan keberhasilan diseminasi idiologi Pancasila dalam memperkuat kesadaran dan komitmen terhadap nilai-nilai Pancasila di kalangan masyarakat Indonesia.
DOK. PRIBADI Iskandar saat mempertahankan disertasinya bidang Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta pada Rabu (21/5/2024).Iskandar memulai jenjang pendidikan Strata 1 di Universitas Halu Oleo Kendari, lulus pada tahun 1993. Kemudian pada tahun 1995, melanjutkan studi S2 Jurusan Ekofisiologi Tanaman di Univ. Padjadjaran, Bandung.
Selanjutnya, pada tahun 2001, melanjutkan Studi S3 di ITB Bandung Jurusan Mikrobiologi Tanah.
Dan Pada tahun 2008, Kembali studi S2 pada Program Studi Magister Manajemen di Univ. Jayabaya, Jakarta kemudian, pada tahun 2017, melanjutkan studi di Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid Jakarta.
Sebagai akademisi dan profesional, Iskandar memiliki pengalaman sebagai dosen dan pernah menduduki jabatan Wakil Dekan I Fakultas Pertanian di Univ. Islam 45 Bekasi pada 1997 hingga 2000.
Iskandar kemudian diangkat menjadi Staf Khusus Menteri Agama RI, periode 2001-2004.
Selain sebagai Akademisi dan Birokrasi, Doktor Iskandar, juga, aktif diberbagai organisasi kemasyarakatan, antara lain sebagai salah satu Wakil Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia periode 2003-2028.
Dia sempat menjabat sebagai Bendahara Umum di Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2003-2008), Ketua Pimpinan Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP BAMUSI), sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) periode 2004-2029.
Iskandar juga juga menjadi Bendahara Masjid At-Taufiq Lenteng Agung, Jakarta Selatan (Masjid Milik Keluarga Alm. Muh. Taufik Kiemas) serta Dewan Pakar “Beyond Borders Indonesia”, dan Pendiri “Terang Hijau”.
Selain itu, Iskandar juga pernah diangkat sebagai Direktur Utama PT. Mega Indo Energi yang bergerak dalam bidang energy baru terbarukan dan saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT. Energi Baru Nawasena sejak tahun 2003.