Istana Sebut Berlebihan jika Kenaikan Emas Dianggap Sinyal Buruk Ekonomi Indonesia
Mensesneg Prasetyo Hadi menilai anggapan kenaikan harga emas sebagai sinyal kekhawatiran ekonomi Indonesia berlebihan. Halaman all
(Kompas.com) 30/04/25 12:16 128736
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menilai anggapan yang menyebut kenaikan harga emas sebagai sinyal buruk terhadap perekonomian di Indonesia sangat berlebihan.
Sebagaimana diketahui, harga emas belakangan ini melonjak tinggi.
"Ada beberapa yang beranggapan kenaikan ini apakah sebuah sinyal kekhawatiran tentang kondisi ekonomi. Saya kira itu terlalu berlebihan kalaupun ada masukan atau pandangan," kata Prasetyo kepada wartawan, Rabu (30/4/2025).
Dia berharap semua pihak dapat memberikan pandangan yang konstruktif dan memberikan optimisme terhadap kondisi ekonomi bangsa Indonesia.
Meski begitu, ia menyampaikan terima kasih dan rasa penghormatan terhadap pandangan-pandangan terkait situasi nasional.
"Mari kita jadikan sebagai peringatan untuk kita terus waspada di dalam mengelola perekonomian kita dan di dalam merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi bangsa kita. Saya kira begitu berkenaan dengan naiknya, kecenderungan naiknya harga emas," ucapnya.
Seperti diketahui, emas termasuk safe haven atau aset yang aman untuk diinvestasikan, bahkan ketika kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja.
Belakangan ini, harga emas mengalami peningkatan secara signifikan.
Hal ini menjadi bahan perbincangan banyak orang, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.
Kisaran harga emas saat ini hampir mencapai angka Rp2 juta per gram.
Dikutip dari Kontan, pada Rabu, 30 April 2025, hari ini grafik harga emas 24 karat Antam turun Rp 1.000 per gram, dari sebelumnya Rp 1.966.000 per gram menjadi Rp 1.965.000 per gram.
#ekonomi-indonesia #harga-emas-hari-ini #harga-emas-naik #mensesneg-prasetyo-hadi