Mensesneg: Anggapan Harga Emas Jadi Sinyal Krisis Terlalu Berlebihan
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai kekhawatiran soal kondisi ekonomi imbas kenaikan harga emas dinilai terlalu berlebihan.
(Kompas.com) 30/04/25 12:50 128671
JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menilai kekhawatiran soal kondisi ekonomi imbas kenaikan harga emas dinilai terlalu berlebihan.
"Ada yang menganggap kenaikan ini sebagai sinyal kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi. Saya kira itu berlebihan," ujar Prasetyo di Jakarta, Rabu (30/4/2025), seperti dilansir Antara.
Ia berharap, setiap masukan dan pandangan yang berkembang tetap bersifat konstruktif serta mendorong optimisme terhadap ekonomi nasional.
Meski begitu, Prasetyo mengapresiasi berbagai pendapat yang muncul. Ia mengingatkan pentingnya tetap waspada dalam merumuskan kebijakan dan mengelola perekonomian.
"Kita harus terus waspada saat merumuskan kebijakan ekonomi bangsa," kata dia.
Ia menjelaskan, kenaikan harga emas dalam negeri turut dipengaruhi oleh lonjakan harga emas global.
DOK. Humas Kemenpan-RB Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (17/3/2025).Kenaikan ini dipicu gejolak geopolitik dan geoekonomi yang meningkatkan permintaan emas secara signifikan.
Menurut dia, mekanisme pasar membuat harga emas dan komoditas utama dunia ikut naik, termasuk di pasar domestik.
Ia juga menyebut masyarakat Indonesia masih menganggap emas sebagai investasi yang aman dan stabil. Kenaikan harga mendorong minat masyarakat untuk membeli emas.
Prasetyo menambahkan, kehadiran bank emas atau bullion bank yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto memberi ruang lebih aman bagi masyarakat untuk berinvestasi emas.
"Ini beberapa faktor yang menyebabkan harga emas kita naik," kata dia.