IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi RI, Istana: Tak Masalah, Kita Kuat
Mensesneg Prasetyo Hadi optimis meski IMF proyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,7 persen. Halaman all
(Kompas.com) 30/04/25 10:35 128554
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) sekaligus Juru Bicara Presiden RI, Prasetyo Hadi, merespons proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebut akan jauh dari target.
Menurutnya, Indonesia harus tetap optimistis dengan capaian target pertumbuhan ekonomi.
Terlebih, fondasi ekonomi nasional saat ini cukup kuat dan stabil.
"Saya kira itu (proyeksi IMF) sah-sah saja, ada lembaga yang memberikan penilaian atau proyeksi pertumbuhan terhadap ekonomi bangsa kita," ujar Prasetyo dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (30/4/2025).
"Akan tetapi, tentunya marilah kita terus optimis. Optimisme yang dibangun berdasarkan data-data sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh pemerintah, dalam hal ini Menteri Koordinator Ekonomi, Menteri Keuangan, dan beberapa lembaga-lembaga keuangan kita bahwa fondasi ekonomi kita cukup kuat, cukup stabil, tingkat pertumbuhan ekonomi kita terjaga, inflasi kita juga terjaga," jelasnya.
Prasetyo bilang, inflasi Indonesia saat ini masih menjadi salah satu yang terendah di dunia.
Selain itu, konsumsi rumah tangga secara nasional tetap terjaga.
Di sisi lain, iklim investasi nasional juga terjaga, yang dibuktikan dengan tercapainya target investasi di kuartal I 2025.
"Secara intensif, kita semua pemerintah juga terus berusaha untuk menawarkan kerja sama, kerja sama investasi dengan diikuti mempermudah, mempelajari kembali regulasi-regulasi yang sekiranya dapat memperlambat proses-proses investasi kita," papar Prasetyo.
"Jadi, tidak ada masalah kalau ada pandangan dari IMF, tapi kita percaya diri, kita yakin dengan kerja sama semua pihak, baik pemerintah, sektor swasta, para teman-teman, saudara-saudara kita buruh, para pekerja, dan masyarakat. Mari kita bersama-sama membangun ekonomi kita ke depan dengan penuh optimisme," tegasnya.
Sebelumnya, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,7 persen pada tahun 2025.
Angka ini jauh di bawah target ambisius sebesar 8 persen yang dicanangkan Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Proyeksi tersebut tercantum dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2025 yang dirilis pada Selasa (22/4/2025).
Dalam laporan tersebut, IMF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan stagnan di level 4,7 persen pada 2026.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan lebih lambat dari sebelumnya, di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” tulis IMF dalam laporan tersebut.
Selain memproyeksikan perlambatan pertumbuhan, IMF juga memperkirakan tingkat pengangguran di Indonesia akan meningkat.
Angkanya diprediksi naik menjadi 5,0 persen pada 2025, dari 4,9 persen pada tahun sebelumnya.
Tren ini diperkirakan berlanjut ke 2026 dengan angka pengangguran sebesar 5,1 persen.
IMF menyoroti meningkatnya ketegangan perdagangan global sebagai salah satu penyebab utama pelemahan pertumbuhan ekonomi.
Direktur Departemen Riset IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyebut bahwa gelombang tarif baru dan kebijakan proteksionis telah memperburuk prospek pertumbuhan dunia. "Ketegangan perdagangan ini akan sangat mempengaruhi perdagangan global," ujar Gourinchas.
Ia menambahkan bahwa reaksi balasan dari negara-negara mitra dagang turut memperlemah sistem perdagangan internasional yang selama ini menjadi penopang ekonomi global.
Secara global, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 2,8 persen pada 2025, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,3 persen.
Untuk kawasan Asia berkembang, termasuk Indonesia, rata-rata pertumbuhan diprediksi berada di kisaran 4,5 persen.
Sementara itu, negara-negara berpenghasilan rendah diperkirakan mencatat pertumbuhan 4,2 persen, turun 0,4 persen dari proyeksi sebelumnya.
#jakarta #imf #pertumbuhan-ekonomi #proyeksi-ekonomi-indonesia