Canting di Balik Jeruji, Ketika Lapas Jadi Kanvas Harapan Indriyani
Indriyani (29), warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta, duduk tenang, menggenggam canting kecil berisi malam yang sudah dilelehkan. Halaman all
(Kompas.com) 22/04/25 05:00 122206
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah riuhnya Indonesian Prison Products and Arts Festival (IPPAFest) yang digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (21/4/2025), perhatian sejumlah pengunjung tertuju pada sebuah booth Kanwil Provinsi Jakarta.
Di sanalah Indriyani (29), warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Jakarta, duduk tenang, menggenggam canting kecil berisi malam yang sudah dilelehkan.
Sesekali ia meniup ujung canting, memastikan suhu cairan tidak terlalu panas. Kemudian, malam di canting itu Indri torehkan perlahan ke atas kain putih polos yang terbentang di depannya.
Tak ada keraguan dari gerakan tangan Indri. Setiap goresan malam yang ia lukis seakan mengandung cerita tentang perjalanan hidupnya yang kini berbalut warna dan penuh pola.
Indri tak sendiri, ada warga binaan yang turut tampil dalam IPPAFest yang akan berlangsung hingga Rabu (23/4/2025) itu.
Di festival ini, mereka bukan narapidana, melainkan seniman, perajin, dan musisi. Ada yang melukis wajah-wajah penuh ekspresi, ada yang memainkan alat musik dengan semangat menyala, ada pula yang memamerkan hasil kerajinan tangan memesona.
Penjara, bagi banyak orang mungkin terdengar menyeramkan, dibatasi jeruji dingin, sunyi, dan penyesalan.
Namun, bagi Indri, justru di balik tembok dan pagar tinggi itulah ia menemukan ruang untuk bertumbuh.
Sejak menjalani masa hukuman pada 2020, penjara tak lagi menjadi tempat menebus kesalahan semata, melainkan sekolah kehidupan untuk Indri berkreasi.
“Awalnya, saya itu belum bisa apa-apa. Tapi, dilatih di sana (lapas),” ucap Indriyani saat berbincang dengan Kompas.com, Senin (21/4/2025).
Awalnya, Indri hanya senang menggambar. Di tengah waktu luang dan rutinitas di balik jeruji, ia mencoba-coba ikut pelatihan batik.
Tak disangka, ia justru menemukan ruang untuk berekspresi dan merangkai ulang kehidupannya.
“Kalau lagi ada inspirasi gitu jadi kita bisa meluapkan ada di situ. Kalau batik tulis itu kan apa yang ada di pikiran kita kan, jadi bisa dituangin langsung,” ucap Indriyani.
Setiap hari, Indri bisa menghabiskan waktu delapan sampai sepuluh jam untuk membatik.
Kadang motif kontemporer, kadang klasik. Kadang juga hanya mengikuti arus pikiran yang ingin meluap menjadi pola-pola indah.
“Yang susah itu bukan tekniknya, tapi kalau misalnya ada pesanan dan diburu waktu. Tapi ya, semua yang dipelajari pasti sulit kalau enggak ada kemauan. Tapi kalau kita mau, pasti bisa,” kata dia.
Sementara, Menteri Imigrasi dan Permasyarakatan RI (Imipas) Agus Andrianto menyatakan, melalui IPPAFest, masyarakat diajak untuk melihat bahwa warga binaan bukan hanya angka statistik atau berita kriminal masa lalu.
Mereka adalah individu yang sedang diberi kesempatan kedua, dilatih, didampingi, dan diberdayakan agar saat kembali ke masyarakat bisa berdiri sejajar, bukan hidup dalam stigma.
“Pada saat kembali ke masyarakat, diharapkan masyarakat satu, menyadari kesalahannya, mandiri secara ekonomi. Dengan dua hal itu saja, kemungkinan untuk terjadi pengulangan pidana itu zero,” ujar Agus.
Dia menyebut, negara hadir melalui pendekatan yang lebih manusiawi. Bukan lagi pendekatan represif, tapi pembangunan kapasitas pribadi.
Pendekatan yang percaya bahwa perubahan itu mungkin, selama diberi ruang dan arahan.
“Yang diuntungkan siapa? Masyarakat. Terlindungi dan kita berharap warga binaan yang kembali ke masyarakat ini, menjadi masyarakat yang dapat membantu pembangunan nasional Indonesia,” kata Agus.
Malam pun terus menetes dari canting yang digenggam Indriyani, membentuk motif demi motif yang rumit namun indah.
Di balik garis-garis itu, ada jejak tangan yang pernah salah arah, namun kini tengah merajut ulang jalan hidupnya dengan tekad dan harapan.
Penjara, dalam cerita Indri, bukanlah akhir. Ia justru menjadi titik balik.
Menjadi ruang untuk mengenal diri, menerima masa lalu, dan membangun masa depan, setitik demi setitik, seperti malam yang ditoreh di atas kain putih.
Saat kelak Indri melangkah keluar dari gerbang lapas, ia tak hanya membawa karya-karya batik, tetapi juga lembar baru dalam hidup yang sudah siap diwarnai dengan tangan dan hatinya sendiri.
“Sebenarnya, untuk ke depannya saya belum tahu, belum ada pikiran juga soalnya masih lumayan di sana (hukuman di penjara). Kepingin sih ada, cuma ya lihat nanti aja di luar di sana. Kalau ada kesempatan mau mengembangkan kemampuan saya dalam membatik,” ungkap Indriyani.
#hari-kartini #warga-binaan-lapas #peringatan-hari-kartini #peringatan-hari-kartini-2025