Dalam Sehari, Aksi Damai Depan Gerbang Pancasila DPR Dapat 4 Kali Upaya Pengusiran
Aksi damai dengan mendirikan tenda di depan Gerbang Pancasila Gedung DPR/MPR RI disebut telah empat kali mengalami upaya pengusiran. Halaman all
(Kompas.com) 09/04/25 15:58 112881
JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi damai dengan mendirikan tenda di Gerbang Pancasila Gedung DPR/MPR RI, Jalan Gelora, Kelurahan Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, dilaporkan telah mengalami empat kali upaya pengusiran oleh pihak berwenang dalam satu hari.
Untuk diketahui, aksi damai mendirikan tenda di Gerbang Pancasila sudah berlangsung sejak Senin (9/4/2025).
“Kalau untuk dihitung sih, saya lupa ya sampai berapa kali. Tapi, setiap hari selalu ada. Bahkan, bisa sampai tiga sampai empat kali,” kata perwakilan masyarakat sipil bernama Al ditemui di lokasi, Rabu (9/4/2025).
“Entah itu dari Satpol PP, pengamanan dalam DPR, ataupun dari kepolisian,” tambah dia.
Setidaknya terdapat berbagai alasan yang digunakan pihak berwenang untuk membubarkan aksi pendirian tenda ini, salah satunya karena dianggap sebagai aksi yang tidak jelas.
“Padahal, kami sudah menjawab bahwa kami punya tuntutan, punya sesuatu yang ingin kami bicarakan dengan DPR juga, segala macam. Jadi, mereka dengan dalihnya mengganggu juga. Padahal ini rumah kami, rumah rakyat,” ungkap dia.
Menurut Al, para demonstran telah mematuhi keinginan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan aksi damai tanpa pembakaran ban.
“Karena kan dari Pak Presiden sendiri mengatakan bahwa aksi harus damai ya. Ini salah satu cara kami untuk mempresentasikan bahwa aksi kami itu damai,” tegasnya.
Namun, pada Selasa (8/4/2025) sore, aksi damai dengan mendirikan tenda di depan Gerbang Pancasila akhirnya dipindahkan secara paksa oleh pihak keamanan Gedung Parlemen.
“Kami aksi sejak hari Senin sampai hari ini masih bertahan. Tadinya di depan (gerbang), tapi ada upaya dari pengamanan DPR untuk memindahkan kami secara paksa,” kata Al.
Oleh karena itu, sejumlah massa aksi damai ini terpaksa mendirikan tenda di atas trotoar, tepat di seberang Gerbang Pancasila.
Untuk menghindari kesalahpahaman, massa aksi menyampaikan pengumuman melalui tulisan yang pada potongan kardus berwarna coklat.
Pengumuman itu mereka pasang di sudut trotoar agar bisa dibaca oleh pejalan kaki yang melintas.
“Mohon maaf perjalanan anda terganggu. Aksi protes kami digusur ke trotoar,” demikian bunyi pengumuman tersebut.
Dalam pengumuman tersebut juga tercantum tagar #BatalkanRUUTNI dan #SupremasiSipil.
Meskipun tenda-tenda tersebut berada di atas trotoar, sejumlah pejalan kaki masih dapat melintas karena masih tersedia ruang yang cukup.
Adapun aksi damai masyarakat sipil ini menuntut pencabutan pengesahan Revisi Undang-Undang (RUU) Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi UU pada Kamis (20/3/2025).
AI yang merupakan warga Karawang, Jawa Barat, mengatakan bahwa aksi ini tidak memiliki kegiatan khusus.
Namun, aksi tersebut menjadi wadah bagi warga untuk berekspresi dengan caranya masing-masing.
“Contohnya kemarin ada yang teatrikal, ada yang bernyanyi, dan juga ada kegiatan lain seperti kuteksan, make up, dan segala macam,” ujar dia.
“Termasuk membuka lapak buka dan juga ada seniman yang menggambar aksi protes kami,” tambah dia.
Ia menyampaikan bahwa setiap aktivitas massa aksi dapat diekspresikan sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah dengan cara masing-masing.
#tolak-ruu-tni #demo-ruu-tni #demo-uu-tni #demo-uu-tni-di-dpr