Rindu Akan Rumah dan Harapan Anak-anak di Lapas Lombok Tengah
Anak-anak di Lapas rindu pulang menjelang Lebaran. Acara Ramadan Budaya membawa harapan baru bagi mereka. Halaman all
(Kompas.com) 30/03/25 04:02 108222
MATARAM, KOMPAS.com - Jumat (28/3/2025) sore itu, hujan enggan turun, menjelang tiga hari sebelum Lebaran.
43 anak laki-laki penghuni Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) atau Lapas Anak di Desa Selebung, Lombok Tengah, berjajar duduk rapi di lapangan.
Hari tersebut adalah hari istimewa bagi mereka, karena kedatangan tamu dari Komunitas Berbagi, Komunitas Hijrah, dan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) yang menggelar acara Ramadhan Budaya ke-4.
Karpet dibentangkan di lapangan yang luas, dan seluruh penghuni lapas mengenakan kaus hitam bertuliskan "Man Jadda Wa Jada" (Siapa bersungguh-sungguh, maka akan berhasil).
Mereka juga mengenakan topeng wajah tokoh-tokoh Islam, Wali Songo, pahlawan nasional, hingga tokoh superhero.
Sejumlah anak yang tidak ikut berbaris di lapangan sedang bersiap untuk pertunjukan hadrah.
Dengan suara merdu, mereka membuka Ramadhan Budaya dengan kekompakan dalam pukulan hadrah yang bervariasi.
Mendengarkan cerita dan mimpi mereka selama berada di LPKA Lombok Tengah adalah pengalaman yang sangat berharga.
"Saya mendapat hukuman 7 tahun, saya menjalaninya disini, tugas saya hari ini menyiapkan kebutuhan logistik kawan kawan, " Kata RA (19) yang baru 10 bulan menjalani hukumannya.
Pertunjukan wayang botol
FITRI RACHMAWATI S.SOS Kalapas LPKA Lombok Te gah, Muyadi Gani bersama Tim Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS), saat Ramadhan Budaya, Jum\'at (28/3/2025), mereka berbagi dan menghibur bersama anak anak Lapas, ditengah kerinduan mereka pada keluarga saat Lebaran.RA dan 42 rekan-rekannya yang berasal dari berbagai daerah di Lombok dan Sumbawa menjalani hukuman karena beragam kasus, mulai dari narkoba, kekerasan, hingga pencurian.
Di tengah kehidupan yang disiplin ini, mereka harus berbaris dan dihitung oleh sipir untuk mencegah pelarian.
AG (19) dari Sumbawa, salah satu anak binaan yang lebih pendiam, menunjukkan ketertarikan saat melihat pertunjukan wayang botol.
Dia bertanya kepada salah seorang dalang, "Saya lihat saja wayang ini, saya tertarik. Apa bisa mewakili saya jika ingin menyampaikan keinginan saya?" AG berani tampil dalam pertunjukan interaktif "Man Jadda Wa Jada" yang digelar oleh tim SPWS.
Anak-anak lain tampak senang, tertawa terpingkal saat mendengar dialog tokoh-tokoh dalam pertunjukan tersebut.
Dari balik kelir, AG menyampaikan harapan dan mimpinya.
Sambil memainkan wayang botol, ia mengungkapkan keinginan untuk pulang dan mudik seperti orang lain saat Lebaran.
"Hai, saya AG. Saya ingin pulang, rindu pulang," katanya dengan suara tertahan.
Meskipun ada yang mengingatkan agar tidak cengeng, kata-kata AG mencerminkan kerinduan yang mendalam, mewakili perasaan anak-anak lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, AG berbagi mimpinya, "Kawan-kawan, saya ingin berubah. Mimpi saya, jika keluar nanti, saya ingin menghidupi ibu saya dan membuatkan dia rumah."
Mimpi meraih kunci masa depan
FITRI RACHMAWATI S.SOS Kalapas LPKA Lombok Te gah, Muyadi Gani bersama Tim Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS), saat Ramadhan Budaya, Jum\'at (28/3/2025), mereka berbagi dan menghibur bersama anak anak Lapas, ditengah kerinduan mereka pada keluarga saat Lebaran.Tim SPWS menyambut mimpi ini dengan menekankan bahwa mimpi adalah kunci untuk meraih masa depan, yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Nidji.
"Rindu pulang adalah harapan dsn mimpi adik adik, wujudkan mimpi itu dengan tetap berusaha. menjadi lebih baik. Jangan kembali ke LPKA ini lagi kecuali kembali memberi motivasi pada yang masih berada disini, " kata Abdul Latif Apriaman, dalang wayang botol salam pertunjukkan singkat itu.
Hendri Andriawan, penggagas sekaligus penanggung jawab acara Ramadhan Budaya ke-4, menjelaskan bahwa mereka hadir untuk menghibur anak-anak Lapas yang jauh dari keluarga.
"Kami tahu mereka pasti sulit mendapatkan akses hiburan seperti anak-anak lain, jadi kami hadir untuk menghibur mereka semampu kami," jelas Hendri.
Kegiatan berbagi kebahagiaan ini dilakukan setiap bulan Ramadhan, dan tahun ini merupakan tahun keempat di LPKA.
Hendri menegaskan bahwa di balik topeng yang mereka kenakan, terdapat anak-anak yang memiliki masa depan cerah.
Salah satu hiburan yang disajikan adalah pertunjukan wayang, yang memadukan wayang sasak dengan wayang botol.
Mulyadi Gani, Kepala LPKA kelas II Lombok Tengah, menyatakan bahwa meskipun acara ini dilaksanakan di dalam lapas, penjagaan tetap ketat.
"Namun, di sini mereka tidak merasa tertekan. Tempat ini lebih mirip sekolah atau pondok pesantren, di mana mereka dilatih disiplin tanpa tekanan," ungkap Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa anak-anak binaan tidak dianggap sebagai tahanan, melainkan sebagai anak didik yang memerlukan bimbingan.
Mulyadi berharap, dengan adanya kegiatan positif seperti ini, anak-anak akan merasa lebih nyaman dan tidak merasa terasing, melainkan seperti di \'pondok\' tempat mereka belajar dan beraktivitas.
Kegiatan semacam ini memberikan harapan baru bagi anak-anak di LPKA, dengan mimpi untuk pulang dan berjuang menjadi lebih baik.
Semoga kerinduan mereka segera terobati dan masa depan yang lebih cerah menanti mereka.
#lapas-anak #ramadan-budaya #lapas-anak-di-lombok-tengah #harapan-anak-anak-di-lapas-lombok-tengah #kerinduan-anak-anak-di-lapas-lombok-tengah-akan-rumah